Kota Yang Hilang

 

KOTA YANG HILANG




 

Ginda menyesap kopi instan dari termosnya sambil menatap jalan berdebu di depan. Peta digital di ponselnya menunjukkan bahwa ia seharusnya sudah sampai di tujuan, sebuah desa kecil di perbatasan. Namun, yang ada di hadapannya hanyalah sebuah jalan lurus yang mengarah ke gerbang besar dari batu, tertutup lumut dan terlihat sudah sangat tua.

Ia melangkah mendekat, meneliti ukiran di sisi gerbang—sebuah bahasa yang tidak dikenalnya. Saat Ginda menyentuhnya, gerbang itu bergetar pelan dan terbuka dengan suara berderit. Rasa penasaran mengalahkan kewaspadaannya, dan tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk.

Di balik gerbang, terbentang sebuah kota yang aneh. Bangunan-bangunan batu berdiri megah, dihiasi ornamen klasik, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan. Jalan-jalan bersih, udara terasa segar, tetapi sunyi. Ginda berjalan perlahan, suara langkahnya menggema di antara tembok-tembok tinggi. Ia berhenti di depan sebuah papan nama yang tampak masih baru, bertuliskan huruf-huruf yang perlahan berubah menjadi bahasa yang bisa ia baca:

 "Lavia".

Ginda merinding. Ia tak pernah mendengar nama kota ini sebelumnya. Misteri semakin dalam, Ginda takut juga penasaran dengan apa yang baru saja ia lihat. Tidak ada pilihan lain selain terus bergerak maju, mencari peradaban baru yang mungkin tersembunyi di kota itu. Langit merah jambu mengiringi perjalanan Ginda sore itu. Pedang yang tersangkur di pinggangnya mulai dikeluarkan, kacamata night vision menjadi sebuah kewajiban, tanpa kacamata itu, Ginda kesulitan menemukan jalan.

Aneh, semuanya terasa begitu wajar di kota itu. Seluruh restoran menyediakan menu makanan yang lengkap, angkutan umum berhenti di setiap pemberhentian, kereta berjalan dari stasiun ke stasiun, kendaraan berlalu lalang, bahkan jam besar di balai kota menyala setiap 1 jam. Ginda mulai mengira bahwa inilah tujuannya, tetapi hal itu dipatahkan ketika Ginda menyadari, tidak ada siapa pun selain dirinya di kota itu.

Hari pertama, Ginda mencoba mencari seseorang. Ia berjalan dari satu bangunan ke bangunan lain, mengetuk pintu, tapi tak ada yang menjawab. Anehnya, beberapa rumah terlihat seperti masih dihuni—ada piring di meja makan, lilin yang baru saja padam, dan kasur yang tampak berantakan.

Saat malam tiba, lampu-lampu jalan menyala dengan sendirinya, menerangi kota yang tetap sunyi. Ginda mendengar suara langkah di kejauhan, tapi saat ia mengejar, tak ada seorang pun.

Di tengah alun-alun kota, ia menemukan air mancur besar dengan patung seorang wanita memegang bola bercahaya. Pada dasarnya terdapat tulisan kecil yang berbunyi:

"Jika kau datang, maka kau harus pergi. Tapi ingat, waktu di sini tidak berjalan seperti di duniamu."

Ginda merasakan ada sesuatu yang mengawasinya. Ia bergegas kembali ke tempatnya beristirahat, sebuah toko buku kosong. Malam itu, ia bermimpi aneh—seorang pria tua dengan jubah panjang memperingatkannya untuk segera pergi sebelum "waktu menelannya."

Esok paginya, Ginda berusaha keluar dari kota itu. Ia kembali ke gerbang tempat ia masuk, tetapi yang ia temukan hanyalah tembok batu tinggi tanpa jalan keluar. Peta di ponselnya tak menunjukkan lokasi, hanya layar putih tanpa informasi.

Ginda mencoba mencari jalur lain, namun semua jalan mengarah kembali ke alun-alun. Setiap kali ia mencoba, ia merasa berjalan lebih lama dari seharusnya.

Hari-hari berlalu, atau setidaknya itulah yang Ginda pikirkan. Ia kehilangan rasa waktu—matahari terbit dan terbenam seperti biasa, tapi tubuhnya tidak merasa lelah atau lapar.

Saat ia membaca buku-buku di toko, ia menemukan catatan seorang pelancong lain, seseorang bernama Anton yang juga pernah terjebak di kota ini bertahun-tahun lalu.

"Aku telah mencoba semua cara. Tidak ada jalan keluar. Jika kau membaca ini, kau mungkin bernasib sama sepertiku. Kota ini hidup. Ia menelan kita pelan-pelan. Dan saat kau lupa dari mana asalmu, maka kau akan menjadi bagian darinya."

Ginda tersentak. Ia tidak ingin menjadi bagian dari kota ini. Pikirannya kacau. Ginda ingin segera terbebas dari kota itu, entah bagaimana caranya ia harus membuatnya mencapai jalan keluar. Siang itu, Ginda berjalan mengelilingi kota, entah berapa kali ia sudah berputar di jalan yang sama hanya untuk mencari jalan keluar. Ada sebuah kertas lusuh di trotoar yang bertuliskan “Bola, Air mancur.” Terbersit sebuah ide di otak Ginda.

Suatu malam, Ginda kembali ke air mancur dan menyentuh bola bercahaya di tangan patung. Sebuah suara berbisik di kepalanya:

"Kunci keluar bukanlah pintu, tetapi ingatan."

Ginda mengingat kehidupannya sebelum tersesat—rumahnya, keluarganya, perjalanannya ke desa ini. Semakin ia mengingat, semakin kota itu bergetar. Jalanan retak, bangunan runtuh.

Ia menutup mata, mengingat dengan segenap hatinya siapa dirinya, dan saat ia membuka mata, ia sudah berdiri di tengah jalan berdebu, di luar gerbang yang kini kembali tertutup dan lenyap.

Ponselnya berbunyi—lokasinya sudah kembali normal. Seakan-akan kota itu tidak pernah ada.

Tapi saat ia merogoh sakunya, ia menemukan sebuah koin emas dengan ukiran nama:

“Lavia”

Kota itu mungkin telah hilang, tapi ia tahu… ia masih ada, menunggu pelancong lain yang tersesat.

Gdnda bergegas meninggalkan tempat itu, berkendara dengan cepat menuju desa yang seharusnya ia tuju. Sesampainya di sana, ia bertanya kepada warga sekitar tentang Lavia, namun tak seorang pun mengenalnya.

Seorang lelaki tua di warung kopi memperhatikannya dengan tatapan tajam.

"Kau… kau melihatnya, ya?" tanyanya dengan suara serak.

Ginda terkejut. "Maksud Bapak?"

Lelaki itu menghela napas. "Dulu, kakek buyutku pernah bercerita tentang sebuah kota yang hanya muncul bagi mereka yang tersesat. Kota yang menunggu… dan menelan mereka yang lupa dari mana asalnya."

Ginda merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Lavia bukan kota biasa," lanjut lelaki itu. "Ia adalah perbatasan… antara dunia kita dan sesuatu yang lebih tua, lebih besar. Dan jika kau membawa sesuatu darinya…"

Lelaki itu melirik koin di tangan Ginda.

"Kau mungkin belum benar-benar lepas darinya."

Jantung Ginda berdetak lebih cepat. Ia menatap koin itu, dan untuk sesaat, bayangan bangunan batu Lavia memantul di permukaannya.

Di kejauhan, suara derit gerbang yang familiar terdengar kembali. Koin itu menampilkan bayangan gerbang kota Lavia dengan sangat jelas. Ginda tidak tahu apa yang harus ia lakukan, semakin banyak orang yang tersesat di kota tersebut, maka dunia ini sedang tidak baik baik saja. Ingin sekali rasanya Ginda menyelamatkan siapa saja yang tersesat di sana, tetapi semua itu sia-sia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Hang Tuah

Membangun Mental Tangguh dengan Praktik Filosofi Teras

Teks Eksposisi