Membangun Mental Tangguh dengan Praktik Filosofi Teras
Filsafat bagi sebagian orang terdengar rumit dan membosankan. Filsafat adalah cara berpikir tentang topik-topik tertentu seperti nilai, eksistensi, waktu, makna, dan lain-lain. Awalnya, filsafat dikembangkan di Yunani kuno untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar alam semesta. Banyak ilmuwan dan filsuf mengatakan, filsafat adalah cikal bakal semua ilmu pengetahuan. Dalam filsafat terdapat banyak aliran, salah satunya aliran stoikisme. Secara singkat, stoikisme menekankan kepada setiap orang bahwa semua yang bisa dikendalikan berakar kepada diri kita sendiri.
Filosofi Teras, salah satu judul buku filsafat stoikisme yang sedang populer di era sekarang. "Stoikisme" adalah topik utama di dalam buku tersebut. Mengingat mental ilness yang marak terjadi, tak jarang generasi muda mendapatkan masalah serius terkait mental mereka. Jika ditinjau secara literal, "Filosofi Teras" terlihat tidak berkorelasi dengan penyakit mental. Bahwasannya, Filosofi Teras adalah ajaran tentang stoikisme, yang terjadi sekitar 300 tahun lalu sebelum masehi. Ajaran ini berkembang di Yunani hingga Kekaisaran Romawi. Teras menggambarkan bahwa ajaran ini dulunya diajarkan kepada banyak orang di bawah teras berpilar. Marcus Aurellius adalah salah satu tokoh yang ddikenal berperan besar di dalam pengajaran stoikisme.
Semuanya dimulai dari diri kita sendiri, adalah kalimat yang sering ditemukan di dalam stoikisme. Pasalnya, semua yang bisa kita kontrol tidak terlepas dari diri sendiri. Rasionalitas adalah aspek utama yang harus diingat saat memahami stoikisme. Setiap orang yang memiliki pemahaman matang tentang stoikisme diharapkan bisa memiliki mental yang kuat. Stoikisme membiasakan setiap orang untuk bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Menyadarkan bahwa yang dapat kita kendalikan adalah diri kira sendiri adalah maksud dan tujuan buku ini.
Stoikisme dipercaya bisa memperkuat mental generasi muda masa kini. Meskipun buku ini sudah diterbitkan 2 tahun lalu, namun isinya masih relevan, tidak hanya generasi milenial dan orang muda saja yang ditarik untuk membaca buku ini. Bonaventura Adhi, salah satu pembaca Filosofi Teras yang membuktikan "khasiat" dari buku ini. Berawal dari sebuah ketidaktahuan akan pentingnya ketangguhan mental di era sekarang, ia lantas mulai membaca Filosofi Teras. Pada awalnya, buku ini terkesan sangat membosankan, banyak istilah yang tidak dapat dipahami dan penjelasan kompleks. Semakin ke dalam, isinya semakin menarik dan terkesan berkorelasi dengan kehidupannya.
Perbedaan besar di dalam pola berpikir dan penerimaan terhadap semua peristiwa sangat terlihat. Dikotomi kendali adalah kunci utama untuk menerima, memahami, dan merespon. Secara singkat, semua yang bisa dikendalikan tidak terlepas dari diri kita sendiri. Oleh karena itu, penguasaan diri sangat penting. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak hal yang berada di luar kendali kita. Seringkali kita menemukan sesuatu yang tidak "pas" dengan perasaan diri kita sendiri. Dengan adanya hal itu, kita harus menyadari bahwa sesuatu yang terjadi di luar diri kita berada di luar kendali, kita tidak seharusnya terlalu memikirkan hal itu.
Premeditatio Malorum, praktik nyata dari Filosofi Teras yang paling sederhana. Ini bisa dilakukan setiap saat, hanya saja, dibutuhkan pikiran yang jernih dan logis. Singkatnya premeditatio malorum adalah praktik membiasakan diri dengan hal-hal yang buruk. Setiap hari, sudah seharusnya praktik ini dilakukan. Seseorang bisa dengan sengaja memikirkan apa saja hal buruk yang akan terjadi pada hari itu, apa saja peristiwa yang mungkin membuat dirinya kecewa pada hari itu. Jika memang terjadi, maka pikiran dan diri sudah siap menerima itu semua. Selalu ingat dikotomi kendali adalah kunci keberhasilan praktik premeditatio malorum.
Sebagai seorang pelajar, Bonaventura sangat terbantu dengan praktik Filosofi Teras. Penerimaan terhadap semua peristiwa akan terasa mudah dengan pemahaman dan penguasaan diri sendiri yang matang. "Meskipun hidup penuh dengan ketidakpastian, namun dengan penerimaan, kita dapat menemukan kedamaian sehingga dapat menghadapi segalanya dengan baik", adalah kalimat yang selalu diingat ketika berada di dalam situasi yang kurang menyenangkan. Praktik ini sangat terikat dengan rasionalitas, dimana kita sebagai manusia selalu mempunyai batas, dan batas-batas itulah yang harus selalu kita waspadai, jangan sampai diri kita terjerumus ke dalam irrasionalitas yang hanya akan membuat kita hancur.
Pada akhirnya, yang bisa mengubah kita hanyalah diri sendiri. Semua hal di luar kendali kita tidak mempunyai ruang untuk mengubah tatanan diri. Penerimaan atas segala kekurangan diri kita akan membuat diri kita semakin berkembang dan lebih baik dengan orang lain. Dengan praktik stoikisme, kita menjadi lebih tenang untuk menanggapi semua peristiwa yang terjadi. Selalu mengingat apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan adalah kunci utama untuk mencapai sebuah ketenangan.

gaya banget
BalasHapusSangat terbantu
BalasHapus